a.
Pengertiaan
Novel
Kata
novel berasal dari bahasa Itali novella yang secara harfiah berarti
“sebuah barang baru yang kecil”, dan kemudian diartikan sebagai “cerita pendek
dalam bentuk prosa”. (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2005:9). Dalam bahasa Latin
kata novel berasal novellus yang diturunkan pula dari kata noveis yang
berarti “baru”, dikatakan baru karena dibandingkan dengan jenis-jenis lain,
novel ini baru muncul kemudian (Tarigan, 1995:164). Novel adalah karya sastra
berbentuk cerita panjang yang menyatu menjadi buku. Novel tidak bisa disebut
cerita pendek karena novel adalah cerita panjang.
b.
Ciri-ciri
Novel
Hendy (1993:225)
menyebutkan ciri-ciri novel sebagai berikut.
1.
Sajian
cerita lebih panjang dari cerita pendek dan lebih pendek dari roman, biasanya
cerita dalam novel dibagi atas beberapa bagian.
2.
Bahan
cerita diangkat dari keadaan yang ada dalam masyarakat dengan ramuan fiksi
pengarang.
3.
Penyajian
berita berlandas pada alur pokok atau alur utama yang batang tubuh cerita, dan
dirangkai dengan beberapa alur penunjang yang bersifat otonom (mempunyai latar
tersendiri).
4.
Tema
sebuah novel terdiri atas tema pokok (tema utama) dan tema bawahan yang
berfungsi mendukung tema pokok tersebut.
5.
Karakter
tokoh-tokoh utama dalam novel berbeda-beda. Demikian juga karakter tokoh
lainnya. Selain itu, dalam novel dijumpai pula tokoh statis dan tokoh dinamis.
Tokoh statis adalah tokoh yang digambarkan berwatak tetap sejak awal hingga
akhir. Tokoh dinamis sebaliknya, ia bisa mempunyai beberapa karakter yang
berbeda atau tidak tetap.
6.
Berbentuk
sebuah buku
7.
Terdiri
dari banyak bagian-bagian cerita yang terpisah sesuai topiknya
8.
Biasanya
lebih dari 100-200 halaman
c.
Macam-Macam
Novel, Yaitu
1. Novel Romantis
Novel romantis adalah novel yang memuat cerita panjang
bertemakan percintaan. Novel ini hanya dibaca khusus oleh para remaja dan orang
dewasa. Alur ceritanya pertemuan kedua tokoh yang berlawanan jenis tersebut
ditulis semenarik mungkin. Lalu dilanjutkan dengan konflik-konflik percintaan
hingga mencapai sebuah titik klimaks, lalu diakhiri dengan sebuah ending
yang kebanyakan bercabang jadi tiga: happy ending (dua tokoh
utama bersatu), sad ending (dua tokoh utama tidak bersatu), dan
ending menggantung (pembaca dibiarkan menyelesaikan sendiri kisah itu).
2.
Novel
Komedi
Novel komedi adalah novel yang memuat
cerita yang humoris (lucu) dan menarik dengan gaya bahasa yang ringan dengan
diiringi gaya humoris dan mudah dipahami.
3.
Novel
Religi
Novel ini bisa saja merupakan kisah romantis
atau inspiratif yang ditulis lewat sudut pandang religi. Atau novel yang lebih
mengarah kepada religi meski tema tersebut beragam.
4.
Novel
Horor
Novel ini biasanya bercerita seputar
hantu. Sisi yang menarik dari novel ini adalah latar tempatnya, yang kebanyakan
sebagai sumber hantu itu berasal. Cerita juga biasa disajikan dalam bentuk
perjalanan sekelompok orang ke tempat angker.
5.
Novel
Misteri
Novel ini adalah novel yang biasanya
memuat teka-teki rumit yang merespons pembacanya untuk berpartisipasi dalam
menyelesaikan masalah tersebut. Bersifat mistis, dan keras.Tokoh-tokoh yg
terlibat biasanya banyak dan beragam, seperti polisi, detektif, ilmuwan,
budayawan, dll.
6.
Novel
Inspiratif
Novel Inspiratif adalah novel yang menceritakan sebuah
cerita yang bisa memberi inspirasi pembacanya. Biasanya novel inspiratif ini
banyak yang berasal dari cerita nonfiksi atau nyata. Tema yang disuguhkan pun
banyak, seperti tentang pendidikan, ekonomi, politik, prestasi, dan percintaan.
Gaya bahasanya pun kuat, deskriptif, dan akhirnya menemui karakter tokoh yang
tak terduga.
Ada
beberapa jenis novel dalam sastra. Jenis novel mencerminkan keragaman tema dan
kreativitas dari sastrawan yang tak lain adalah pengarang novel. Nurgiyantoro
(2005:16) membedakan novel menjadi novel serius dan novel popular.
a.
Novel
Populer
Sastra populer adalah perekam kehidupan
dan tidak banyak memperbincangkan kembali kehidupan dalam serba kemungkinan.
Sastra popular menyajikan kembali rekaman-rekaman kehidupan dengan tujuan
pembaca akan mengenali kembali pengalamannya. Oleh karena itu, sastra populer
yang baik banyak mengundang pembaca untuk mengidentifikasikan dirinya (Kayam
dalam Nurgiyantoro, 2005:18).
Heryanto dalam
Salman (2009:2) mengungkapkan ragam kesusastraan Indonesia, meliputi: (1)
kesusastraan yang diresmikan, diabsahkan, (2) kesusastraan yang dilarang, (3)
kesusastraan yang diremehkan, dan (4) kesusastraan yang dipisahkan.
Kesusastraan yang diresmikan (konon) adalah kesusastraan yang sejauh ini banyak
dipelajari di pendidikan (tinggi). Kesusastraan
yang dilarang adalah karya-karya yang dianggap menggangu status quo (kekuasaan)
seperti yang telah terjadi seperti zaman Balai Pustaka yaitu karya Marco
Kartodikromo. Pada zaman Orde Baru, karya-karya Pramudya Ananta Toer atau kasus
cerpen karya Ki Panji Kusmin, Langit Makin Mendung, menjadi contoh yang
terlarang pula. Sementara itu, karya sastra yang dipisahkan adalah karya sastra
daerah yang ditulis dalam bahasa daerah. Dalam posisi itu, karya sastra yang
diremehkan adalah karya sastra yang dianggap populer, sastra hiburan.
Berbicara tentang sastra populer, Kayam
dalam Nurgiyantoro (2005:18) menyebutkan bahwa sastra populer adalah perekam
kehidupan dan tak banyak memperbincangkan kembali kehidupan dalam serba
kemungkinan . ia menyajikan kembali rekaan-rekaan kehidupan itu dengan harapan
pembaca akan mengenal kembali pengalaman-pengalamannya sehingga merasa terhibur
karena seseorang telah menceritakan pengalamannya dan bukan penafsiran tentang
emosi itu. Oleh karena itu, sastra populer yang baik banyak mengundang pembaca
untuk mengidentifikasikan dirinya.
Adapun pengkategorian novel sebagai
novel serius atau novel populer bukanlah menjadi hal baru dalam dunia sastra.
Usaha ini tidak mudahdilakukan karena bersifat riskan. Selain dipengaruhi oleh
hal subjektif yang muncul dari pengamat, juga banyak faktor dari luar yang
menentukan. Misalnya, sebuah novel yang diterbitkan oleh penerbit yang biasa
menerbitkan karya sastra yang telah mapan, karya tersebut akan dikategorikan
sebagai karya yang serius, karya yang bernilai tinggi, padahal pengamat belum
membaca isi novel.
Kayam dalam Nurgiyantoro (2005:17)
menyebutkan kata ”pop” erat diasosiasikan dengan kata ”populer”, mungkin karena
novel-novel itu sengaja ditulis untuk ”selera populer” yang kemudian dikenal
sebagai ”bacaan populer”. Jadilah istilah pop sebagai istilah baru dalam dunia
sastra kita.
Nurgiyantoro juga
menjelaskan bahwa novel populer adalah novel yang populer pada masanya dan
banyak penggemarnya, khususnya pembaca dikalangan remaja. Novel jenis ini
menampilkan masalah yang aktual pada saat novel itu muncul. Pada umumnya, novel
populer bersifat artifisial, hanya bersifat sementara, cepet ketinggalan zaman,
dan tidak memaksa orang untuk membacanyasekali lagi seiring dengan munculnya
novel-novel baru yang lebih populer pada masa sesudahnya (2005:18). Di sisi
lain, novel populer lebih mudah dibaca dan lebih mudah dinikmati karena
semata-mata menyampaikan cerita (Stanton dalam Nurgiyantoro 2005:19). Novel
populer tidak mengejar efek estetis seperti yang terdapat dalam novel serius.
b.
Novel
Serius
Novel serius atau yang lebih dikenal dengan sebutan novel
sastra merupakan jenis karya sastra yang dianggap pantas dibicarakan dalam
sejarah sastra yang bermunculan cenderung mengacu pada novel serius. Novel
serius harus sanggup memberikan segala sesuatu yang serba mungkin, hal itu yang
disebut makna sastra yang sastra. Novel serius yang bertujuan untuk memberikan
hiburan kepada pembaca, juga mempunyai tujuan memberikan pengalaman yang
berharga dan mengajak pembaca untuk meresapi lebih sungguh-sungguh tentang
masalah yang dikemukakan.
Berbeda dengan novel populer yang selalu
mengikuti selera pasar, novel sastra tidak bersifat mengabdi pada pembaca.
Novel sastra cenderung menampilkan tema-tema yang lebih serius. Teks sastra
sering mengemukakan sesuatu secara implisit sehingga hal ini bisa dianggap
menyibukkan pembaca. Nurgiyantoro (2005:18) mengungkapkan bahwa dalam membaca
novel serius, jika ingin memahaminya dengan baik diperlukan daya konsentrasi
yang tinggi disertai dengan kemauan untuk itu. Novel jenis ini, di samping
memberikan hiburan juga terimplisit tujuan memberikan pengalaman yang berharga
kepada pembaca atau paling tidak mengajak pembaca untuk meresapi dan merenungkan
secara lebih sungguh-sungguh tentang permasalahan yang dikemukakan.
Kecenderungan yang muncul pada novel
serius memicu sedikitnya pembaca yang berminat pada novel sastra ini. Meskipun
demikian, hal ini tidak menyebabkan popularitas novel serius menurun. Justru
novel ini mampu bertahan dari waktu ke waktu. Misalnya, roman Romeo Juliet karya
William Shakespeare atau karya Sutan Takdir, Armin Pane, Sanusi Pane yang
memunculkan polemik yang muncul pada dekade 30-an yang hingga saat ini masih
dianggap relevan dan belum ketinggalan zaman (Nurgiyantoro, 2005:21).
Beracuan dari pendapat di atas, ditarik
sebuah simpulan bahwa novel serius adalah novel yang mengungkapkan sesuatu yang
baru dengan cara penyajian yang baru pula. Secara singkat disimpulkan bahwa
unsur kebaruansangat diutamakan dalam novel serius. Di dalam novel serius,
gagasan diolah dengan cara yang khas. Hal ini penting mengingat novel serius
membutuhkan sesuatu yang baru dan memiliki ciri khas daripada novel-novel yang
telah dianggap biasa. Sebuah novel diharapkan memberi kesan yang mendalam
kepada pembacanya dengan teknik yang khas ini.
d. Unsur Pembangun Novel
1.
Unsur Instrinsik
Unsur Instrinsik adalah unsure yang
membangun novel dari dalam seperti tema,tokoh,latardan alur.
a.
Tema
dan Amanat
Tema
ialah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya sastra.
Tema mayor ialah tema yang sangat menonjol dan menjadi persoalan. Tema
minor ialah tema yang tidak menonjol.
Tema mayor ialah tema yang sangat menonjol dan menjadi persoalan. Tema
minor ialah tema yang tidak menonjol.
Amanat
ialah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan di
dalam karya sastra. Amanat biasa disebut makna. Makna dibedakan menjadi
makna niatan dan makna muatan. Makna niatan ialah makna yang diniatkan
oleh pengarang bagi karya sastra yang ditulisnya. Makna muatan ialah makna yang termuat dalam karya sastra tersebut.
dalam karya sastra. Amanat biasa disebut makna. Makna dibedakan menjadi
makna niatan dan makna muatan. Makna niatan ialah makna yang diniatkan
oleh pengarang bagi karya sastra yang ditulisnya. Makna muatan ialah makna yang termuat dalam karya sastra tersebut.
b.
Tokoh
dan Penokohan
Tokoh
ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada
beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama
ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya
sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh
bulat (round character). Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalny6a baik saja atau buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini. Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula tokoh protagonis dan antagonis. Protagonis ialah tokoh yang
disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.
Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh.
Ada beberapa cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung. Cara dramatik, ialah cara menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita.
beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama
ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya
sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh
bulat (round character). Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalny6a baik saja atau buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini. Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula tokoh protagonis dan antagonis. Protagonis ialah tokoh yang
disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.
Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh.
Ada beberapa cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung. Cara dramatik, ialah cara menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita.
Dialog
ialah cakapan antara seorang tokoh dengan banyak tokoh. Dualog ialah cakapan
antara dua tokoh saja.
Monolog
ialah cakapan batin terhadap kejadian lampau dan yang sedang
terjadi.
Solilokui ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akan terjadi.
terjadi.
Solilokui ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akan terjadi.
c.
Alur
dan Pengaluran
Alur disebut juga plot,
yaitu rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat sehingga menjadi
satu kesatuan yang padu bulat dan utuh.
Alur terdiri atas beberapa bagian :
Alur terdiri atas beberapa bagian :
a)
Awal, yaitu pengarang mulai memperkenalkan
tokoh-tokohnya.
b)
Tikaian, yaitu terjadi konflik di
antara tokoh-tokoh pelaku.
c)
Gawatan atau rumitan, yaitu konflik
tokoh-tokoh semakin seru.
d)
Puncak, yaitu saat puncak konflik
di antara tokoh-tokohnya.
e)
Leraian, yaitu saat peristiwa
konflik semakin reda dan perkembangan alur mulai terungkap.
f)
Akhir, yaitu seluruh peristiwa atau
konflik telah terselesaikan.
Pengaluran, yaitu teknik atau cara-cara menampilkan alur. Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur erat dan alur longggar. Alur erat ialah alur yang tidak memungkinkan adanya pencabangan cerita.
Alur longgar adalah alur yang memungkinkan adanya pencabangan cerita. Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur tunggal dan alur ganda. Alur tunggal ialah alur yang hanya satu dalam karya sastra. Alur
ganda ialah alur yang lebih dari satu dalam karya sastra. Dari segi urutan waktu, pengaluran dibedakan kedalam alur lurus dan tidak lurus. Alur lurus ialah alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus ialah alur yang melukiskan tidak urut dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus bisa menggunakan gerak balik (backtracking), sorot balik (flashback), atau campauran keduanya.
Pengaluran, yaitu teknik atau cara-cara menampilkan alur. Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur erat dan alur longggar. Alur erat ialah alur yang tidak memungkinkan adanya pencabangan cerita.
Alur longgar adalah alur yang memungkinkan adanya pencabangan cerita. Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur tunggal dan alur ganda. Alur tunggal ialah alur yang hanya satu dalam karya sastra. Alur
ganda ialah alur yang lebih dari satu dalam karya sastra. Dari segi urutan waktu, pengaluran dibedakan kedalam alur lurus dan tidak lurus. Alur lurus ialah alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus ialah alur yang melukiskan tidak urut dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus bisa menggunakan gerak balik (backtracking), sorot balik (flashback), atau campauran keduanya.
g)
Latar dan Pelataran
Latar
disebut juga setting, yaitu tempat atau waktu terjadinya peristiwa-peristiwa
yang terjadi dalam sebuah karya sastra. Latar atau setting dibedakan menjadi
latar material dan sosial. Latar material ialah lukisan latar belakang alam
atau lingkungan di mana tokoh tersebut berada. Latar sosial, ialah lukisan
tatakrama tingkah laku, adat dan pandangan hidup. Sedangkan pelataran ialah
teknik atau cara-cara menampilkan latar.
h)
Pusat Pengisahan
Pusat
pengisahan ialah dari mana suatu cerita dikisahkan oleh pencerita. Pencerita di
sini adalah privbadi yang diciptakan pengarang untuk menyampaikan cerita.
Paling tidak ada dua pusat pengisahan yaitu pencerita sebagai orang pertama dan
pencerita sebagai orang ketiga. Sebagai orang pertama, pencerita duduk dan
terlibat dalam cerita tersebut, biasanya sebagai aku dalam tokoh cerita.
Sebagai orang ketiga, pencerita tidak terlibat dalam cerita tersebut tetapi ia
duduk sebagai seorang pengamat atau dalang yang serba tahu.
i)
Latar
Latar adalah
tempat terjadinya cerita (Sumarjo, 1984:60). Latar memiliki empat
unsur pokok, yakni latar tempat, latar waktu, latar alat dan latar sosial. Latar tempat
berkaitan dengan lokasi geografis, dalam ruang bahkan di alam bebas. Sedang latar
waktu berkaitan dengan waktu terjadinya peristiwa yang dapat ditinjau dari jam,
hari, tanggal, bulan tahun, malam, siang, musim dan zaman tertentu. Latar sosial
menggamarkan status sosial tokoh
tertentu, misalnya pekerjaan, agama, dan lain sebagainya. Latar alat
mengacu pada alat atau barag yang digunakan tokoh dalam menjalankan cerita.
Fungsi latar
menurut Sayuti (1988:75-82) adalah sebagai metafora yang digunakan untuk mengungkapkan suasana hati
tokoh yang berkaitan dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat metaforik. Selain
itu fungsi latar sebagai atmosfir karena berkaitan dengan suasana atau cahaya
emosional yang disarankan terutama oleh latar. Fungsi yang lain adalah sebagai
penonjolan elemen latar yakni penonjolan waktu dan tempat.
2.
Unsur Ekstrinsik
Bertens (2007:
140) menjelaskan pengertian nilai
melalui cara memperban dingkannya dengan
fakta. Fakta menurutnya adalah
sesuatu yang ada atau berlang sung begitu saja. Sementara nilai adalah sesuatu
yang berlaku, sesuatu yang memikat atau menghimbau kita. Fakta dapat ditemui
dalam konteks deskripsi semua unsurnya dapat dilukiskan satu demi satu dan
uraian itu pada
prinsipnya dapat diterima
oleh semua orang.
Nilai berperanan dalam suasana
apresiasi atau penilaian dan
akibatnya sering akan dinilai secara berbeda oleh orang
banyak. Nilai selalu berkaitan dengan penilaian seseorang, sementara
fakta menyangkut ciri-ciri
obyektif saja.
Tim Penyusun Kamus (2008: 690) menjelaskan pengertian nilai sebagai sifat-sifat
atau hal-hal yang penting atau berguna bagi masyarakat.
Mencari nilai luhur dari karya sastra adalah menentukan
kreativitas terhadap hubungan kehidupannya. Dalam karya
sastra akan tersimpan nilai atau pesan yang berisi amanat atau nasihat. Melalui
karyanya, pencipta karya sastra berusaha untuk mempengaruhi pola pikir pembaca dan
ikut mengkaji tentang baik dan buruk, benar mengambil pelajaran, teladan yang
patut ditiru sebaliknya, untuk dicela bagi yang tidak baik. Karya sastra
diciptakan bukan sekedar untuk dinikmati, akan tetapi untuk dipahami dan
diambil manfaatnya. Karya sastra tidak sekedar benda mati yang tidak berarti,
tetapi didalamnya termuat suatu ajaran berupa nilai-nilai hidup dan pesan-pesan
luhur yang mampu menambah wawasan manusia dalam memahami kehidupan.
Dalam karya sastra, berbagai nilai
hidup dihadirkan karena hal ini merupakan hal positif yang mampu mendidik
manusia, sehingga manusia mencapai hidup yang lebih baik sebagai makhluk yang
dikaruniai oleh akal, pikiran dan perasaan.
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang
banyak memberikan penjelasan secara jelas tentang sistem nilai. Nilai itu
mengungkapkan perbuatan apa yang dipuji dan dicela, pandangan hidup mana yang
dianut dan dijauhi, dan hal apa saja yang dijunjung tinggi. Adapun nilai-nilai
pendidikan dalam novel sebagai berikut.
a.
Nilai Religius
Religi
merupakan suatu kesadaran yang menggejala secara mendalam dalam lubuk hati
manusia sebagai human nature. Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan
secara lahiriah melainkan juga menyangkut keseluruhan diri pribadi manusia
secara total dalam integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan (Rosyadi, 1995:
90). Nilai-nilai religious bertujuan untuk mendidik agar manusia lebih baik
menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan. Nilai-nilai religius yang
terkandung dalam karya sastra dimaksudkan agar penikmat karya tersebut
mendapatkan renungan-renungan batin dalam kehidupan yang bersumber pada
nilai-nilai agama. Nilai-nilai religius dalam sastra bersifat individual dan
personal.
Kehadiran unsur
religi dalam sastra adalah sebuah keberadaan sastra itu sendiri (Nurgiyantoro,
2005: 326). Semi (1993: 21) menyatakan, agama merupakan kunci sejarah, kita
batu memahami jiwa suatu masyarakat bila kita memahami agamanya. Semi (1993:
21) juga menambahkan, kita tidak mengerti hasil-hasil kebudayaanya, kecuali bila
kita paham akan kepercayaan atau agama yang mengilhaminya. Religi lebih pada
hati, nurani, dan pribadi manusia itu sendiri. Dari beberapa pendapat tersebut
dapat disimpulkan bahwa nilai religius yang merupakan nilai kerohanian
tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia.
b.
Nilai
Moral
Moral merupakan sesuatu yang igin disampaikan pengarang
kepada pembaca, merupakan makna yang terkandung dalam karya sastra, makna yang
disaratkan lewat cerita. Moral dapat dipandang sebagai tema dalam bentuk yang
sederhana, tetapi tidak semua tema merupaka moral (Kenny dalam Nurgiyantoro,
2005: 320). Moral merupakan pandangan pengarang tentang nilai-nilai kebenaran
dan pandangan itu yang ingin disampaikan kepada pembaca. Hasbullah (2005: 194)
menyatakan bahwa, moral merupakan kemampuan seseorang membedakan antara yang
baik dan yang buruk.
Nilai moral yang terkandung dalam karya sastra bertujuan
untuk mendidik manusia agar
mengenal
nilai-nilai etika merupakan nilai baik buruk suatu perbuatan, apa yang harus
dihindari, dan apa yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu tatanan
hubungan manusia dalam masyarakat yang dianggap baik, serasi, dan bermanfaat
bagi orang itu, masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar. Uzey (2009:2)
berpendapat bahwa nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang
menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia moral selalu
berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral
berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang
lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari.
Dapat
disimpulkan bahwa nilai pendidikan moral menunjukkan peraturan-peraturan
tingkah laku dan adat istiadat dari seorang individu dari suatu kelompok yang
meliputi perilaku. Untuk karya menjunjung tinggi budi pekerti dan nilai susila.
c.
Nilai
Sosial
Kata “sosial”
berarti hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat/ kepentingan umum. Nilai
sosial merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial dan tata cara
hidup sosial. Perilaku sosial brupa sikap seseorang terhadap peristiwa yang
terjadi di sekitarnya yang ada hubungannya dengan orang lain, cara berpikir,
dan hubungan sosial bermasyarakat antar individu. Nilai sosial yang ada dalam
karya sastra dapat dilihat dari cerminan kehidupan masyarakat yang
diinterpretasikan (Rosyadi, 1995: 80). Nilai pendidikan sosial akan menjadikan
manusia sadar akan pentingnya kehidupan berkelompok dalam ikatan kekeluargaan
antara satu individu dengan individu lainnya.
Nilai sosial
mengacu pada hubungan individu dengan individu yang lain dalam sebuah
masyarakat. Bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana cara mereka
menyelesaikan masalah, dan menghadapi situasi tertentu juga termasuk dalam nilai
sosial. Dalam masyarakat Indonesia yang sangat beraneka ragam coraknya,
pengendalian diri adalah sesuatu yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan
masyarakat.
Sejalan dengan
tersebut nilai sosial dapat diartikan sebagai landasan bagi masyarakat untuk
merumuskan apa yang benar dan penting, memiliki ciri-ciri tersendiri, dan
berperan penting untuk mendorong dan mengarahkan individu agar berbuat sesuai
norma yang berlaku. Uzey (2009:7) juga berpendapat bahwa nilai sosial mengacu
pada pertimbangan terhadap suatu tindakan benda, cara untuk mengambil keputusan
apakah sesuatu yang bernilai itu memiliki kebenaran, keindahan, dan nilai
ketuhanan. Jadi nilai sosial dapat disimpulkan sebagai kumpulan sikap dan
perasaan yang diwujudkan melalui perilaku yang mempengaruhi perilaku seseorang
yang memiliki nilai tersebut. Nilai sosial merupakan sikap-sikap dan perasaan
yang diterima secara luas oleh masyarakat dan merupakan dasar untuk merumuskan
apa yang benar dan apa yang penting.
d.
Nilai
Budaya
Nilai-nilai
budaya menurut Rosyadi (1995:74) merupakan sesuatu yang dianggap baik dan
berharga oleh suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa yang belum tentu
dipandang baik pula oleh kelompok masyarakat atau suku bangsa lain sebab nilai budaya
membatasi dan memberikan karakteristik pada sutu masyarakat dan kebudayaannya.
Nilai budaya
merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat, hidup dan berakar dalam alam
pikiran masyarakat, dan sukar diganti dengan nilai budaya lain dalam waktu
singkat. Uzey (2009: 1) berpendapat mengenai pemahaman tentang nilai budaya
dalam kehidupan manusia diperoleh karena manusia memaknai ruang dan waktu.
Makna itu akan bersifat intersubyektif karena ditumbuh-kembangkan secara
individual, namun dihayati secara bersama, diterima, dan disetujui oleh
masyarakat hingga menjadi latar budaya yang terpadu bagi fenomena yang
digambarkan.
Sistem nilai
budaya merupakan inti kebudayaan, sebagai intinya ia akan mempengaruhi dan
menata elemen-elemen yang berada pada struktur permukaan dari kehidupan manusia
yang meliputi perilaku sebagai kesatuan gejala dan benda-benda sebagai kesatuan
material. Sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam
alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus
mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sisitem nilai budaya
biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.
Dapat
disimpulkan dari pendapat tersebut sistem nilai budaya menempatkan pada posisi
sentral dan penting dalam kerangka suatu kebudayaan yang sifatnya abstrak dan
hanya dapat diungkapkan atau dinyatakan melalui pengamatan pada gejala-gejala
yang lebih nyata seperti tingkah laku dan benda-benda material sebagai hasil
dari penuangan konsep-konsep nilai melalui tindakan berpola. Adapun nilai-nilai
budaya yang terkandung dalam novel dapat diketahui melalui penelaahan terhadap
karakteristik dan perilaku tokoh-tokoh dalam cerita.